banyak hal yang terjadi dalam hidup saya blakangan ini membuat saya lebih sering merenung
bukan tentang apa yang terjadi. melainkan apa yang ada di balik itu semua
ya. apa yang terjadi membuat saya sedih.
terlalu sedih dan sakit hati sampai-sampai saya enggan sekali untuk menceritakannya pada siapapun
kecuali dua orang yang paling dekat dengan saya, seorang sahabat masa SMA yang masih begitu baik mau mendampingi saya walaupun kami dipisahkan jarak yang terasa begitu jauh, dan seorang yang tidak dapat lagi saya definisikan maknanya dalam hidup saya. mereka yang begitu berarti dalam hidup saya.
dan keberadaan mereka makin terasa begitu berarti belakangan. tak saya pungkiri, saya adalah orang yang sangat buruk dalam bersyukur. hinggan dalam keadaan yang "baik-baik saja" saya kerap tidak mensyukuri arti keberadaan mereka.
di luar mereka, bukan tidak berarti. tapi lagi-lagi karena keterbatasan saya, yang sangat tidak pandai bersyukur, sayang seringkali mengeluhkan apa yang sebenarnya pantas untuk saya syukuri.
sebenarnya bukan juga saya tidak bersyukur. hanya saja saya sering membuat border untuk diri saya sendiri. saya selalu merasa saya tidak benar-benar memiliki arti untuk orang-orang di sekitar saya. sedangkan saya adalah orang yang (sebenarnya) memiliki kebutuhan akan relationship yang tinggi. ya. begitulah saya. picik sekali ya pemikiran saya.
kembali ke pembahasan yang utama.
mereka yang hadir dalam kehidupan saya selalu memberikan kesan. baik ataupun buruk. tidak banyak yang memberikan kesan buruk. pun saya orang yang mudah melupakan kesalahan orang lain. dan lagi, sangat jarang ada orang yang berbuat salah pada saya. seringnya saya yang berbuat salah pada mereka.
ada orang-orang yang selalu hadir. ada pula yang datang dan pergi sesuka hati. terserah. tetap bagi saya, mereka selalu ada. disini. di hati saya.
buat saya, mereka adalah orang-orang yang luar biasa. paling tidak bagi diri mereka sendiri. tapi seringnya baik untuk orang lain juga. di dalam ke-diam-an saya, saya selalu mengagumi mereka. di dalam ke-cuek-an saya, saya sangat menyayangi mereka. walaupun mereka tidak pernah tau. di dalam ke-sendiri-an saya, begitu ingin berbagi dengan mereka.
tapi apa daya, saya begitu malu. entah mengapa. saya hanya tidak ingin mereka merasa kasihan pada saya. saya tidak ingin mereka tetap tinggal hanya untuk menunjukkan bahwa mereka peduli pada saya. tidak. saya ingin mereka semua menjalani hidup seperti biasa. seperti saat tidak ada saya. seperti sekarang, saat segalanya terlihat baik-baik saja.
saya ingin mereka tetap tinggal. ingin sekali mencurahkan segala keluh kesah dan tangis saya di hadapan mereka. ingin sekali mereka menepuk pundak saya, memeluk, dan mengatakan bahwa mereka akan selalu ada untuk saya. ingin sekali. tapi memangnya saya siapa?
ya. begitulah saya. munafik ya.
tapi intinya bukan ini.
intinya, saya bersyukur sekali dengan apa yang terjadi pada diri saya. bagi saya, ini adalah sebuah pemicu pendewasaan diri. agar saya tidak lagi mengeluhkan hal-hal kecil. agar saya tidak lagi menyepelekan apa yang saya miliki dan seharusnya saya mensyukuri itu semua. agar saya dapat memandang sesuatu tudak hanya dari pandangan saya, tetapi dari pandangan orang lain di luar diri saya sendiri.
saya bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang saat ini mengelilingi hidup saya. walaupun saya tidak tau mereka peduli pada saya atau tidak, tapi saya masih bisa datang untuk tertawa.
saya bersyukur, Allah (sepertinya) masih sayang sama saya.
saya bersyukur, masih bisa bernafas.